Categories
Uncategorized

ABU RAYHAN AL-BIRUNI, SOSOK ILMUWAN MUSLIM YANG SANGAT LUAR BIASA “part 1”

Dalam sejarah, Al-Biruni banyak memberi sumbangan ilmiah dalam bidang sains, ia dikenal sebagai seorang ilmuwan yang memiliki kemampuan di berbagai bidang, antara lain: matematika, astronomi, astrologi, fisika, filsafat, sejarah, geografi, kedokteran, farmasi, dan sastra. Karena keahliannya dalam berbagai bidang ini, para orientalis menyebut Al-Biruni sebagai Ptolemeus Arab. Selain menguasai beragam ilmu pengetahuan, Al-Biruni juga fasih dengan sederet bahasa seperti Arab, Turki, Persia, Sansekerta, Yahudi dan Suriah. Semasa muda dia menimba ilmu matematika dan astronomi dari Abu Nasir Mansur.

Al-Biruni sangat dikenal di masanya, baik di Timur maupun Barat. Ia juga diaku i sebagai peletak dasar teori-teori perhitungan segi tiga bola (hisab al-mutsallatsat atau trigonometri). Dalam hidupnya, Al-Biruni menetap di kota Khawarazm hingga usianya yang ke 23. Karena terjadi gejolak politik ia pindah ke Jurjan (dekat Laut Kaspia di Asia Tengah). Di kota ini ia menetap selama 15 tahun, dan di kota ini ia menyelesaikan satu karyanya yang berjudul “al-Atsar al-Baqiyyah ‘an al-Qurun al-Khaliyyah”.

Al-Biruni telah menyatakan bahwa bumi berputar pada porosnya. Pada zaman itu, Al-Biruni juga telah memperkirakan ukuran bumi dan membetulkan arah kota Makkah secara saintifik dari berbagai arah di dunia. Dari 150 hasil buah pikirnya, 35 diantaranya ia dedikasikan untuk bidang astronomi. Dalam hal ini Al-Biruni berperan besar dalam aturan matematika seperti sinus, cosinus, secan, cosecant.

Salah satu sumbangan Al-Biruni adalah adaptasi dan modifikasinya terhadap astrolobe, salah satu instrumen untuk mengetahui posisi bintang-bintang di langit. Dengan menggunakan astrolobe, posisi terdekat dan terjauh sebuah planet dan bintang-bintang dapat ditentukan. Al-Biruni juga diakui sebagai astronom yang mencetus bahwa bumi berputar pada paksinya, disamping Bumi juga memiliki gravitasi atau daya tarik. Al-Biruni juga berhasil melakukan observasi astronomi dengan tingkat ketepatan dan ketelitian yang luar biasa.

Al-Biruni juga merupakan ilmuwan yang membedakan antara astronomi dengan astrologi, dimana ia menghasilkan beberapa karya yang penting dalam bidang ini. Atas kontribusinya ini ia dinobatkan sebagai ‘Bapak Geodesi’. Sementara itu dalam bidang optik, Al-Biruni bersama Ibn al-Haitham, telah menemukan bahwa kecepatan Cahaya lebih cepat dari kecepatan suara. Sedangkan dalam bidang ilmu ilmu sosial, Al-Biruni dipandang sebagai antropologi pertama di dunia. Ia menulis secara terperinci berkaitan dengan antropologi manusia, agama, dan budaya di Timur Tengah, Mediterania, serta Asia Selatan.

Pada 998 M, Sultan dan Al-Biruni pergi ke Gurgan di Laut Kaspia. Dia tinggal di wilayah itu selama beberapa tahun. Selama tinggal di gurgan, Al-Biruni menyeleseikan salah satu karyanya The Chronology of Ancient Nations. Sekitar 11 tahun kemudian, dia kembali ke Khwarizmi.

Sekembalinya dari Gurgan, Al-Biruni menduduki jabatan terhormat sebagai penasihat sekaligus pejabat istana bagi pengganti Emir Ma’mun. pada 1017 M, situasi politik kembali bergejolak, menyusul kematian anak kedua Emir Ma’mun akibat pemberontakan. Khwarizmi pun diinvasi oleh Mahmud Ghazna pada 1017 M. Mahmud lalu membawa para pejabat istana Khwarizmi untuk memperkuat kerajaanya yang bermarkas di Ghazna, Afganistan. Al-Biruni adalah seorang Ilmuwan dan pejabat istana yang ikut diboyong. Selain itu, ilmuwan lainnya yang dibawa Mahmud ke Ghazna adalah matematikus, Ibnu Iraq, dan seorang dokter, Ibnu Khammar.

Untuk meningkatkan prestise istana yang dipimpinnya, Mahmud sengaja menarik para sarjana dan ilmuwan ke istana Ghazna. Mahmud pun melakukan beragam cara untuk mendatangkan para ilmuwan ke wilayah kekuasaanya. Ibnu Sina sempat menerima undangan bernada ancaman dari Mahmud agar datang dan mengembangkan pengetahuan yang dimilikinya di istana Ghazna.

Meski Mahmud terkesan memaksa. Al-Biruni menikmati keberadaanya di Ghazna, Di Istana, dia dihormati dan dengan leluasa dapat mengembangkan pengetahuan yang dikuasainya. Salah satu tugas Al-Biruni adalah menjadi astrolog istana bagi Mahmud dan penggantinya.